Mengejar Sarjana…

Mahasiswa, status yang melekat pada diri saya saat ini. Status yang memaksa saya untuk meninggalkan dunia korporasi. Status yang saya harap mampu memperbaiki nasib saya kedepannya.

Sudah hampir dua tahun sejak saya berhenti bekerja dan memutuskan untuk masuk kembali ke dunia akademik, dengan harapan bisa menjadi seorang sarjana. Banyak orang-orang terdekat saya yang terkejut dengan keputusan ini, khususnya keluarga besar saya. Dan mereka khawatir jika saya tidak mampu untuk menyelesaikan perkuliahan saya nantinya.

Saat itu menjadi awal dimana saya harus memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya sendiri. Awal dimana saya mulai merasakan kedewasaan dalam menentukan pilihan dan sikap. Awal dimana saya berani untuk meninggalkan zona nyaman dan mengambil resiko demi hal yang benar-benar saya inginkan.

Saya sadar jika menjadi seorang sarjana bukan perkara yang mudah. Butuh waktu dan pengorbanan untuk mencapai hal itu. Waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit tentunya. Namun, apalah arti hidup jika hanya melakukan hal yang hasilnya sudah kita ketahui. Hasil yang memaksa kita untuk berjalan ditempat saja. Karena hidup menurut saya adalah tentang merasakan pengalaman dan perasaan yang berbeda di setiap momennya.

Tidak semua orang diberi kesempatan untuk mencicipi dunia perkuliahan. Dunia yang menawarkan berbagai macam hal untuk dikembangkan. Dunia yang seharusnya tidak saya terima begitu saja, tapi dunia yang seharusnya saya manfaatkan demi berkembangnya kualitas diri. Namun, ada sedikit keraguan yang muncul dibalik itu semua.

“Apakah dengan menjadi seorang sarjana akan menjaminkan kehidupan yang lebih baik?”

Pertanyaan ini terus melekat di kepala saya, pertanyaan yang terus membuntuti kemanapun saya pergi. Pertanyaan yang terus meronta dan meminta untuk segera dipuaskan. Pertanyaan yang terus mengusik batin yang terkadang rentan bila diperhadapkan dengan persoalan yang rumit.

Mendiang Steve Jobs pernah mengatakan kalau setiap momen atau kejadian yang terjadi di dalam hidup kita itu seperti “titik”, yang jika dihubungkan dengan titik lainnya akan membentuk sebuah garis. Dimana garis ini menjadi suatu cerita atau kisah hidup yang hanya bisa dirangkai jika kita melihat ke belakang, bukan ke depan.

Tentu mustahil bagi saya untuk mengetahui secara pasti, seperti apa hidup saya di masa depan dan bagaimana dunia perkuliahan akan membantu saya. Namun, saya yakin jika apapun yang saya lakukan saat ini, bahkan jika itu hal yang tidak direncanakan, akan memberikan dampak terhadap masa depan saya kelak. Seperti titik-titik yang menunggu untuk dibentuk menjadi sebuah garis.

“You can’t connect the dots looking forwards, you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something. Your gut, destiny, life, karma, whatever. Because believing that the dots will connect down the road will give you the confidence to follow your heart, even when It leads you off the well-worn path and that would make all the difference. – Steve Jobs”

 

Advertisements

34 comments

  1. Dunia berputar skrg udah kek gitu yah gann .. orang2 pada menilai bahwa arus perkuliahan adalah batu loncatan terbaik agar bisa sukses di masa depannya. ane udah hampir juga 2 tahun kuliahnya tapi rasanya sudah gerah sama kurikulum nya kampus.. kini timbul pertanyaan gan. tujuan kuliah ini untuk apa yaa ?? apa sekedar mengantarkan kita ke pekerjaan sebagai karyawan ? bingung gan ..

    Like

    1. Gerah yang mas maksud seperti apa ya? atau jangan-jangan mas mungkin salah jurusan.
      Kalau tujuan kuliah sih kembali ke diri masing-masing. Tapi umumnya kan untuk mendapat gelar sarjana atau gelar yg lebih tinggi lagi.
      Tapi saya yakin kalau lewat pendidikan, nasib seseorang bisa berubah. 😁

      Like

      1. yakin nih gan ?? apakah pendidikannya yang berpengaruh atau justru org yg benar2 ngemban tuh pendidikan tanpa ngelupain esensi pendidikannya sendiri ?? krn kyknya org cuma ikut arus baik aktivitas kuliah maupun pemikiran tentang kuliahnya gann

        Like

  2. Semangat terus nak…masa depan cerah memang tidak selalu tergantung apakah kita kuliah atau tidak, tetapi dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman diantaranya diperoleh melalui bangku perkuliahan, InsyaAllah akan lebih banyak peluang untuk masa depan kita.Aamiin..

    Liked by 1 person

  3. saya juga sering merasa begitu. Ada satu nasihat yang sering saya sampaikan ke diri saya sendiri supaya nggak gelisah lagi, “ikhlaslah dalam berusaha.” Mungkin nggak semua tujuan akan tercapai, tapi semua usaha pasti kan selalu terbayar, dengan atau tanpa sepengetahuan kita. Good luck for everything!

    Liked by 1 person

  4. Better to enjoy, make some best moments, and take best thing than worrying too much about future, hehe. I think. I believe that God is the best planner, and Hi ! I am college student too ^_^

    Liked by 1 person

      1. What? Wow, that was amazing, how you know? 😀 I even really use that word, and also use that as my status on my WA, hahaha. Great guess :d

        Like

  5. Tak selamanya gelar sarjana menjamin masa depan yang lebih baik.. tapi setidaknya dengan meraih gelar sarjana kita melangkah satu langkah lebih baik..
    Hanya diri anda sendiri yang mengetahui mana yang terbaik buat anda..
    Semangat mas.. 😁

    Liked by 1 person

  6. Nasib seseorang ngga pernah ditentuin oleh gelar sarjana maupun bukan. Tapi bahkan meskipun saya ngga enjoy kuliah setelah dua tahun berhenti, toh ada banyak perkembangan probadi yang saya rasakan selama saya kuliah yang saya kira mungkin ngga akan saya dapatkan seandainya saya dulu tidak kuliah. Selamat menempuh bangku kuliah!!!

    Liked by 1 person

      1. Ngga berhenti kuliah, maksudnya kuliah setelah berhenti sekolah selama 2 tahun gitu hehe. jadi nunda 2 tahun dulu. Niatin aja kuliah buat cari ilmu bukan cuma cari ijazah. gelar dan kesempatan kerja yang lebih baik di depan itu bonus,

        Like

  7. yang penting semangat dan niat baik untuk menuntut ilmu. Niat baik dan usaha serius pada akhirnya akan mendatangkan “bonus” sebagai dampak dari kerja kemanusia (iman, ilmu dan amal) bagitu yang pernah ku dengar dari ustat dulu mas,,,, bro….

    Like

  8. Ketika membaca tulisan ini, saya jadi teringat dengan kalimat, “Hidup adalah pilihan!”. Tidak sampai disitu saja, setiap pilihan yang diambil menuntut “Tanggung jawab” yang harus dikerjakan sampai tuntas. Saya setuju dengan banyak pendapat teman-teman yang menuliskan komentar disini, “Jalani dengan ikhlas sampai tuntas”. Siapa tahu, banyak moment-moment keberuntungan yang menunggu di depan sana. Siapa yang tahu…

    Salam.

    Semangat untuk menyelesaikan pendidikan, Mas.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s