Melabeli Diri Dengan ‘Fake Happy’?

I love making you believe
(Saya suka membuatmu percaya)
What you get is what you see
(Apa yang kau lihat itulah yang kau dapat)
But I’m so fake happy
(Tapi saya pura-pura bahagia)

I been doing a good job of makin’ ’em think
(Saya berhasil membuat mereka berpikir)
I’m quite alright
(Jika saya baik-baik saja)
But I hope I don’t blink
(Tetapi saya berharap tak ketahuan berbohong)

Oh please don’t ask me how I’ve been
(Tolong jangan bertanya bagaimana keadaanku)
Don’t make me play pretend
(Jangan membuatku berpura-pura)
Oh no, oh what’s the use?
(Apa gunanya?)
Oh please, I bet everybody here is fake happy too
(saya yakin semua orang di sini juga pura-pura bahagia)

See I’m gonna draw my lipstick wider than my mouth
(Lihat, saya akan memakai libstik lebih lebar dari mulutku)
And if the lights are low they’ll never see me frown
(Dan jika lampu redup mereka takkan pernah melihatku cemberut)

If I smile with my teeth
(Jika saya tersenyum lebar)
Bet you believe me
(Saya yakin kau percaya padaku)

st,small,215x235-pad,210x230,f8f8f8.lite-1u2

Sepenggal lirik dari band Paramore berjudul ‘Fake Happy’ yang juga sekaligus menggambarkan fenomena sosial tentang orang-orang yang selalu berusaha untuk terlihat bahagia dalam kehidupan yang dijalaninya, tetapi sebenarnya menderita dan terluka akibat masalah-masalah yang membebaninya. Namun ‘sikap’ yang diambil oleh orang-orang ini membuat kesedihan dan penderitaannya luput dan tidak terdeteksi oleh orang-orang sekitarnya.

Lagu Fake Happy adalah pengakuan Hayley Williams (vokalis Paramore) tentang emosinya yang sebenarnya. Dibalik kepribadiaanya yang ceria dan energik, sesungguhnya dia merasa tidak bahagia. Tetapi tuntutan dunia membuatnya mau tidak mau harus ‘memalsukan’ emosinya.

I hate phoniness. It’s not fun to be around, it’s not fun to do yourself. But then there are these moments in your life where you’re professional and you have to have grace with yourself, you have to have grace with other people and work hard, but it’s that self-preservation thing.” – Hayley

Sebelumnya sempat terpikirkan jika orang-orang yang selalu menampilkan keceriaan dalam kesehariannya adalah mereka yang jauh dari kesulitan dan mempunyai kehidupan yang sangat menyenangkan atau sering dipersepsikan sebagai orang-orang yang ‘beruntung’. Namun, anggapan ini terkikis seiring pertemuan saya dengan berbagai macam orang dengan latar belakang dan kepribadian yang berbeda. Saya mencoba mengamati, mendengar, dan memahami mereka hingga akhirnya memunculkan anggapan baru dimana setiap orang dalam kehidupannya mempunyai kesulitan masing-masing, dan setiap orang ‘bebas’ dalam menentukan sikap terhadap masalah-masalahnya.

Berangkat dari hal itu, saya melihat jika orang-orang dengan label fake happy menjadi semakin nampak dan jelas ditemui di generasi sekarang ini, hal ini disebabkan karena adanya wadah sempurna dimana orang-orang bebas menjadi apapun dan mengekspresikan apapun yang mereka inginkan, dimana wadah ini biasa kita kenal dengan ‘media sosial’. Ya, media sosial seakan menjadi alat untuk menyampaikan pesan dan meyakinkan kepada dunia jika orang-orang dibalik layar itu ‘baik-baik saja dan bahagia dengan kehidupannya’. Bukankah kondisi ini sungguh ironis?

Tidak sedikit pula anggapan-anggapan sinis terkait fenomena ini. Banyak yang menilai jika orang-orang dengan label fake happy adalah orang-orang yang memalsukan kondisi mereka sebagai bentuk pelarian dari realitas hidup yang penuh kesakitan. Namun, rasanya juga tidak adil jika menganggap orang-orang dengan label fake happy adalah sesuatu yang keliru, karena bisa saja hal tersebut adalah salah satu bentuk upaya untuk menghibur dan memotivasi diri dalam menghadapi tantangan hidup, seperti yang dilakukan oleh Hayley.

Tentu setiap orang punya pandangan yang berbeda tentang fenomena sosial yang satu ini. Tapi kita semua tahu jika emosi itu bersifat tentatif. Oleh karena itu, everybody, regardless they’re aware or not, is fake happy 


Advertisements

13 comments

  1. Lagi suka sama lagu ini, Ironi banget emang liriknya.

    Tapi emang kadang kita harus pasang label “fake happy” sih, karena kalo ngeluh melulu juga jadi gak baik. Yang penting tetep di ungkapin aja ke orang terpercaya, masalah apa yang dihadapi.

    Btw pingin nulis review satu lagu dengan konsep seperti ini. Tapi belum yakin ama kemampuan menulis. Hheee

    Liked by 2 people

    1. Iya, hal semacam ini balik lagi ke diri sendiri, mau menyikapinya kyk bagaimana.
      Tapi selama label fake happy dijadikan alasan untuk tetap maju dan memotivasi diri, saya pikir labelnya tidak perlu dipermasalahkan lagi.

      Coba aja bro, saya juga baru kali ini nulis konsep yg kyk begini, haha. Awalnya ga yakin tp ujung-ujungnya kelar juga.

      Liked by 1 person

  2. Wuahh setuju sih bahwa sosmed platform untuk menyembunyikan kesedihan dan menyebarkan kebahagiaan yang palsu. Maybe that’s why people on socmed (misalnya instagram) isinya orang-orang yang ‘terlihat’ bahagia semua padahal aslinya mereka belum tentu sebahagia itu.
    Nice review ka!

    Liked by 4 people

    1. Ya mau gimana lagi, fungsi sosmed yang awalnya untuk saling terkoneksi dengan orang lain, skrg mulai terkikis dan kebanyakan hanya dijadikan sebagai tempat untuk membuat personal branding. Salah satu contohnya ya label Fake Happy.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s